Sabtu, 16 Mei 2015

MATEMATIKA DALAM KEHIDUPAN



Tamtsiilu Hayaatu Fii Riyaadliyaati
(perumpamaan hidup dalam matematika)
Manusia itu bagaikan bilangan nol karena manusia dilahirkan ke dunia tanpa membawa apa-apa. Manusia tidak dapat hidup di dunia ini jika tidak memiliki apapun baik kemampuan dalam hal moril maupun materil yakni ilmu dan harta benda yang membuat manusia tidak dapat beradaptasi dalam lingkupnya. Begitu juga dengan bilangan nol, dia tidak akan pernah diterima oleh bilangan asli sampai kapanpun karena bagi bilangan asli, nol tidak ada harganya sama sekali. Tetapi ingatlah wahai manusia seburuk-buruk kita sebagai manusia yang tidak memiliki apa-apa, dunia ini tidaklah sempit pasti akan tetap ada yang mau menerima kita, karena adanya rohman rohimNya Yang Maha Kuasa. Sebagaimana bilangan cacah yang mampu menerima bilangan nol sebagai keluarga. Hal inilah seharusnya menjadikan manusia menyadari bahwa manusia itu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan yang ditunjukkan dengan bilangan bulat, dia memberi kita penjelasan dengan adanya bilangan bulat yang terdiri dari  bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Yang juga akan mengarahkan kita agar tidak menjadi insan yang takabbur atas apa yang kita miliki. Sekarang lihatlah jangan pernah meremehkan orang lain atas kelemahannya. Bilangan nol menunjukkan dirinya bahwa nol bukanlah bilangan  yang tidak ada harganya pasti ada yang membutuhkan nol. Manusia juga begitu, selemah-lemahnya manusia yang memiliki kekurangan pasti ada yang membutuhkannya. Bilangan nol kini bisa beradaptasi dan bergabung pada bilangan-bilangan yang lainnya.
Kita tahu manusia itu diberikan karunia yang tak tertandingi harganya yakni akal, dengan akal manusia bisa berpikir, bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ingatlah wahai manusia segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, ada sesuatu yang dapat diterima akal dan ada pula yang tidak. Hal ini bisa ditunjukkan  dengan adanya bilangan rasional dan bilangan irrasional. Dimana kemampuan akal kadang bisa menerimanya kadang tidak. Sebagaimana hidup ini diciptakan oleh Allah dengan berbagai aspek kehidupan, adanya alam nyata dan alam metafisika.
Jangan pernah menjadi manusia seperti bilangan prma ia hanya akan membagikan sesuatu dan hanya mau berbagi dengan dirinya sendiri. Jadilah manusia seperti bilangan real yang mampu menerima bilangan apapun tanpa membedakan, baik dia bilangan asli, bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan desimal, bilangan rasional maupun bilangan irrasional semua ditampung jadi keluarga bilangan real. Menjadi manusia yang mampu berbuat baik terhadap sesama tanpa membedakan derajat dan stratifikasi sosialnya. Bilangan berapapun apabila dibagi semua akan kembali pada angka satu pada akhirnya. Hal ini menunjukkan bahwa semua yang ada di dunia ini akan kembali pada yang 1, yaitu Allah Sang Maha Pencipta.
Banyak perumpamaan-perumpamaan di dunia ini yang kadang kala tidak kita sadari. Sehingga dengan salah satu contoh ilmu matematika ini dijadikan sebagai perumpamaan hidup. Sebagaimana perumpamaan-perumpamaan dalam bentuk aljabar, dengan angka yang diumpamakan sebagai X, Y, dan Z. Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan ini tidak lain dan tidak hanya agar manusia mau berpikir (la’allakum tatafakkaruuun).
Hidup ini diciptakan Allah berpasang-pasangan (azwaaja) sebagaimana bilangan ganjil dan bilangan genap karena mereka berdua saling melengkapi satu sama lain. Jadi lalui hidup tanpa ada rasa ketakutan yang kadang kala menghantui diri kita sebagai manusia yang lemah, pasti ada yang dapat menerima dan melengkapi kekurangan dalam diri kita.
Semoga bermanfaat bagi kawan pembaca sahabat formasi. Karya-karya tulis ini sebagai luapan hati yang tidak bisa diungkapkan.
Ucapan banyak terimakasih kepada semuanya, dan beribu-ribu maaf apabila terjadi kesalahan baik dalam tulisan maupun redaksi, sebagai manusia yang lemah pastinya memiliki kesalahan dan kekhilafan.
Adanya kritik dan saran dari semuanya akan sangat membantu dalam penulisan selanjutnya.
INSYAALLAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar