Tamtsiilu
Hayaatu Fii Riyaadliyaati
(perumpamaan
hidup dalam matematika)
Manusia
itu bagaikan bilangan nol karena manusia dilahirkan ke dunia tanpa membawa
apa-apa. Manusia tidak dapat hidup di dunia ini jika tidak memiliki apapun baik
kemampuan dalam hal moril maupun materil yakni ilmu dan harta benda yang
membuat manusia tidak dapat beradaptasi dalam lingkupnya. Begitu juga dengan
bilangan nol, dia tidak akan pernah diterima oleh bilangan asli sampai kapanpun
karena bagi bilangan asli, nol tidak ada harganya sama sekali. Tetapi ingatlah
wahai manusia seburuk-buruk kita sebagai manusia yang tidak memiliki apa-apa,
dunia ini tidaklah sempit pasti akan tetap ada yang mau menerima kita, karena
adanya rohman rohimNya Yang Maha Kuasa. Sebagaimana bilangan cacah yang mampu
menerima bilangan nol sebagai keluarga. Hal inilah seharusnya menjadikan
manusia menyadari bahwa manusia itu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan
yang ditunjukkan dengan bilangan bulat, dia memberi kita penjelasan dengan
adanya bilangan bulat yang terdiri dari bilangan bulat positif dan bilangan bulat
negatif. Yang juga akan mengarahkan kita agar tidak menjadi insan yang takabbur
atas apa yang kita miliki. Sekarang lihatlah jangan pernah meremehkan orang
lain atas kelemahannya. Bilangan nol menunjukkan dirinya bahwa nol bukanlah
bilangan yang tidak ada harganya pasti
ada yang membutuhkan nol. Manusia juga begitu, selemah-lemahnya manusia yang
memiliki kekurangan pasti ada yang membutuhkannya. Bilangan nol kini bisa
beradaptasi dan bergabung pada bilangan-bilangan yang lainnya.
Kita
tahu manusia itu diberikan karunia yang tak tertandingi harganya yakni akal,
dengan akal manusia bisa berpikir, bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Ingatlah wahai manusia segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, ada
sesuatu yang dapat diterima akal dan ada pula yang tidak. Hal ini bisa
ditunjukkan dengan adanya bilangan
rasional dan bilangan irrasional. Dimana kemampuan akal kadang bisa menerimanya
kadang tidak. Sebagaimana hidup ini diciptakan oleh Allah dengan berbagai aspek
kehidupan, adanya alam nyata dan alam metafisika.
Jangan
pernah menjadi manusia seperti bilangan prma ia hanya akan membagikan sesuatu
dan hanya mau berbagi dengan dirinya sendiri. Jadilah manusia seperti bilangan
real yang mampu menerima bilangan apapun tanpa membedakan, baik dia bilangan
asli, bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan desimal, bilangan rasional
maupun bilangan irrasional semua ditampung jadi keluarga bilangan real. Menjadi
manusia yang mampu berbuat baik terhadap sesama tanpa membedakan derajat dan
stratifikasi sosialnya. Bilangan berapapun apabila dibagi semua akan kembali
pada angka satu pada akhirnya. Hal ini menunjukkan bahwa semua yang ada di
dunia ini akan kembali pada yang 1, yaitu Allah Sang Maha Pencipta.
Banyak
perumpamaan-perumpamaan di dunia ini yang kadang kala tidak kita sadari.
Sehingga dengan salah satu contoh ilmu matematika ini dijadikan sebagai
perumpamaan hidup. Sebagaimana perumpamaan-perumpamaan dalam bentuk aljabar,
dengan angka yang diumpamakan sebagai X, Y, dan Z. Allah memberikan
perumpamaan-perumpamaan ini tidak lain dan tidak hanya agar manusia mau
berpikir (la’allakum tatafakkaruuun).
Hidup
ini diciptakan Allah berpasang-pasangan (azwaaja) sebagaimana bilangan ganjil
dan bilangan genap karena mereka berdua saling melengkapi satu sama lain. Jadi
lalui hidup tanpa ada rasa ketakutan yang kadang kala menghantui diri kita
sebagai manusia yang lemah, pasti ada yang dapat menerima dan melengkapi
kekurangan dalam diri kita.
Semoga bermanfaat
bagi kawan pembaca sahabat formasi. Karya-karya tulis ini sebagai luapan hati
yang tidak bisa diungkapkan.
Ucapan
banyak terimakasih kepada semuanya, dan beribu-ribu maaf apabila terjadi
kesalahan baik dalam tulisan maupun redaksi, sebagai manusia yang lemah
pastinya memiliki kesalahan dan kekhilafan.
Adanya
kritik dan saran dari semuanya akan sangat membantu dalam penulisan
selanjutnya.
INSYAALLAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar