BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan
Indonesia, semakin hari semakin berkembang. Namun, seperti kita ketahui,
perkembangan ini tidak sepadan dengan kualitas pendidikan itu sendiri. Hal ini
mengakibatkan kesenjangan atau ketimpangan di dalam masyarakat Indonesia
seperti kualitas lulusan, kesenjangan antara pendidikan kota dan desa, dan
sebagainya. Selain itu, didalam pendidikan muncul masalah yang tidak dapat
terpisahkan dari pendidikan itu sendiri yang tidak lain adalah bahwa pendidikan
cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial.
Seperti yang kita
ketahui, stratifikasi sosial merupakan pengelompokan terhadap suatu masyarakat
kedalam kelas-kelas tertentu. Dimana pengelompokan ini dapat memperlihatkan
perbedaan status yang ada didalam masyarakat. Scot (Saripudin, 2010: 41)
menjelaskan bahwa setiap sistem stratifikasi sosial akan melahirkan mitos dan
rasionalnya sendiri untuk menerangkan apa sebabnya masyarakat tertentu harus
dianggap lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain. Benarkah pendidikan
cenderung menjadi sarana timbulnya srtatifikasi sosial?
Berdasarkan latar belakang masalah yang
telah diuraikan di atas, maka penyusun mencoba mendalami dan mengkaji
permasalahan tersebut dalam makalah yang berjudul “Pendidikan dan Stratifikasi Sosial”.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan Pendidikan dan Stratifikasi Sosial?
2. Bagaimana
macam-macam dan tipe stratifikasi sosial?
3. Bagaimana faktor-faktor penyebab munculnya stratifiasi sosial?
4. Bagaimana pengaruh Stratifikasi Sosial?
5. Bagaimana cara Menentukan Stratifikasi Sosial?
6. Bagaimana hubungan antara pendidikan dengan Stratifikasi sosial?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi atau
pengertian Stratifikasi Sosial dan Pendidikan.
2. Untuk mengetahui macam-macam dan tipe stratifikasi sosial.
3. Untuk
mengetahui bagaimana faktor-faktor penyebab
munculnya stratifiasi sosial
4.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari stratifikasi sosial.
5. Untuk mengetahui
bagaimana cara menentukan Stratifikasi Sosial
6. Untuk
mengetahui hubungan antara pendidikan dengan stratifikasi sosial.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan Dan Stratifikasi
Sosial
1. Pengertian Pendidikan
Menurut Langeveld, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan
kepada anak tertuju pada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat
membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Sedangkan
menurut UUNo. 2Tahun 1989, pendidikan merupakan usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Dari pegertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif untuk mengembangkan potensi dirinya agar memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Berdasarkan
pengertian tersebut, dapat diartikan pula bahwa pendidikan mempunyai fungsi
atau kegunaan. Menurut Horton dan Hunt (Saripudin, 2010: 36) pendidikan
mempunyai dua fungsi yakni fungsi manifest dan fungsi laten. Sebagai fungsi
manifest, pendidikan dapat membantu seseorang untuk dapat mencari nafkah. Melalui
pendidikan seseorang akan mempunyai keterampilan yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Dan dari keterampilan itulah, ia akan mampu untuk mencari nafkah.
Selain iu pendidikan juga berfungsi sebagai alat untuk melestarikan kebudayaan. Sebagai fungsi
laten, pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk memperpanjang masa ketidakdewasaan,
mengurangi pengendalian orang tua, dan
sebagainya.
Pendidikan
adalah suatu lembaga yang bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap peserta
didiknya, sehingga bisa dikatakan bahwa melalui pendidikanlah seseorang bisa
memperlihatkan dan mengembangkan kemampuannya yang kemudian akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat.
2. Pengertian Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A.
Sorokin adalah perbedaan penduduk/masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas
secara bertingkat (hierarkis).[1] Pitirim
A. Sorokin dalam tulisan yang berjudul Sosial
Stratification mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu
merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
Sedangkan menurut Drs. Robert M.Z. Lawang stratifikasi sosial adalah
penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke
dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan
prestise.
Dari pengertian para ahli diatas dapat
disimpulkan bahwa stratifikasi sosial merupakan sebuah pengelompokan masyarakat
unuk membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya. Didalam
masyarakat dasar-dasar pembentukan
stratifikasi sosial dilihat dari empat hal.
Pertama
dilihat dari ukuran kekayaan. Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat
dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam
lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak
mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian
pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam
lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk
tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya,
maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
Kedua dilihat dari ukuran kekuasaan dan wewenang. Dalam hal ini jika seseorang
mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar maka, ia akan menempati lapisan
teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.
Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam
masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau
sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
Ketiga
dilihat dari ukuran kehormatan. Disini ukuran kehormatan dapat terlepas
dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau
dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial
masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya
mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang
tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
Dan keempat,
dilihat dari ukuran ilmu pengetahuan. Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai
oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang
yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam
sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu
pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan),
atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur,
doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering
timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang
tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak
orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar
kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan
seterusnya.
B.
Macam-Macam atau Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial
Didalam
bukunya, Saripudin (2010: 43-47) menyebutkan bahwa macam-macam stratifikasi
sosial terdiri dari beberapa kelompok, antara lain:
1.
Stratifikasi pada masyarakat pertanian, dalam masyarakat ini sistem
stratifikasi dilihat dari kepemilikan tanah.
2.
Stratifikasi sosial pada masyarakat feodal, seperti yang kita ketahui
feodalisme merupakan sisten sosial politik yang memberikan kekuasaan yang besar
pada golongan bangsawan. Hampir sama dengan stratifikasi pada masyarakat pertanian,
pada masyarakat feodal stratifikasi sosial dilihat dari kepemilikan tanah yang
terdiri dari dua kelas utama yakni para bangsawan (tuan tanah) dan buruh.
3.
Stratifikasi sosial pada masyarakat industri, pada masyarakat ini sistem
pelapisan sosial lebih bersifat terbuka dimana seseorang memiliki kesempatan
untuk melakukan mobilitas.
Selain itu, didalam bukunya Saripudin
(2010: 48-50) juga mnjelaskan bahwa stratifikasi sosial mempunyi beberapa tipe
antara lain:
1. Stratifikasi SosialTertutup
Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah. Contoh stratifikasi social tertutup yaitu sepert sistem kasta di India dan Bali serta di
Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa.Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat atau bangsawan darah biru.
2.
Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi social terbuk aadalah system stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu
strata atau tingkatan
yang lain. Misalnya
seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya.
Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata
sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah
diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak
keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan
bayaran/penghasilan yang tinggi.
3.
Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi
sosial campuran adalah gabungan dari stratifikasi system terbuka dan stratifikasi system tertutup di mana masyarakat tersebut dapat untuk pindah ke lapisan lebih atas, namun di sisi lain dapat melakukan mobilitas vertical dengan status
sama. Contohnya dapat kita temukan pada masyarakat Bali. Misalnya seseorang yang
berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apa bila ia
pindah ke Jakarta menjadi buruh, maka ia akan memperoleh kedudukan rendah, maka
ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.
C.
Faktor –Faktor Penyebab Munculnya Stratifikasi Sosial
Kehidupan manusia tidak terlepas
dari adanya lapisan dalam masayarakat atau yang sering disebut dengan
stratifikasi sosial.
Keadaan masyarakat yang majemuk memungkinkan terjadinya perbedaan-perbedaan
dalam mayarakat karena faktor-faktor tertentu. Sistem lapisan sosial dalam masyarakat dapat terjadi
dengan sendirinya atau sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama. Menurut
Soekanto (1982: 199-200)
alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah
kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala
masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu. Pelapisan sosial
ini terjadi karena adanya perkembangan dan perubahan dalam masyarakat tersebut.
Hal ini dapat dilihat pada masyarakat Batak dimana marga tanah, yaitu marga pertama-tama membuka
tanah dianggap mempunyai
kedudukan yang tinggi. Demikian pula dengan golongan pembuka tanah kalangan
orang Jawa di Desa dianggap sebagai pembuka tanah dan pendidri desa yang
bersangkutan. Sedangkan tipe sistem lapisan sosial yang sengaja disusun untuk mengejar tujuan
bersama atau tertentu menurut Saripudin (2010: 48) terjadi pada
organisasi-organisasi formal seperti partai politik, pemerintahan, perusahaan, dan angkatan bersenjata. Hal-hal
tersebut berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang resmi yang merupakan
unsur khusus dalam sistem lapisan.
Soekanto (1989:200-201) mengatakan untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat dapat
berpedoman pada hal-hal berikut, yaitu:
“Pertama, sistem lapisan mungkin
berpokok pada sistem bertentangan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya
mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi
objek penelitian. Kedua, sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup
unsure-unsur antara lain: distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti
penghasilan, kekayaan, keselamatan, dan wewenang; sistem pertentangan yang
diciptakan para warga masyarakat; kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah
didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu,
milik, wewenang atau kekeuasaan; lambing-lambang kedudukan seperti tingkah laku
hidup, cara berpakaian, perumahan, dan keanggotaan pada suatu organisasi; mudah
atau sukar bertukar kedudukan; solidaritas diantara individu-individu atau
kelompok-kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial
masyarakat.” Pembedaan atas lapisan merupakan
gejala universal yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat.
Walaupun secara teoritis seluruh manusia dapat dianggap sederajat. Namun tidak
demikian, sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial manusia dalam
masyarakat terbentuk lapisan-lapisan dengan manusia lainnya sebagai suatu
makhluk sosial.
Ada beberapa kondisi sosial yang
menyebabkan munculnya stratifikasi sosial menurut Saripudin (2010: 48) antara lain perbedaan ras dan
budaya, pembagian tugas atau spesialisasi dalam tugas, dan adanya kelangkaan.
Perbedaan warna kulit, lata belakang etnik dan suku akan menyebabkan terjadinya
pelapisan sosial, jika hala itu diiringi denga proses penjajahan. Adanya
kelangkaan sebagai kondisi yang menyebabkan munculnya startifikasi sosial dapat
diartikan sebagai suatau kondisi yang mengandung perbedaan hak dan kesempatan
para anggota yang akhirnya menimbulkan stratifikasi sosial.
Pelapisan
sosial atau stratifikai sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat
kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secarahierarkis). Munculnya lapisan sosial
dalam masyarakat merupakan gejala umum dalam kehidupan masyarakat. Beberapa hal
yang menyebabkan munculnya stratifikasi sosial menurut Saripudin (2010: 47) antara lain:
“Pertama,
munculnya lapisan sosial dalam
masyarakt didasarkan pada adanya pertentangan dan pembedaan. Kedua, tidak adanya keseimbangan dalam
pembagian atau distribusi hak dan kewajiban, hak-hak istimewa (penghasilan,
kekayaan, ilmu) dimiliki oleh hanya segelintir orang atau kelompok tertentu. Ketiga, kelompok-kelompok yang memiliki
hak-hak istimewa tersebut biasanya menggunakan lambang-lambang yang menjadi
symbol kedudukan, lambing tersebut baik berupa pakaian, tingkah laku, rumah,
dan keanggotaan pada suatu organisasi (2010, 47)”.
Selain membedakan seperti adanya pembedaan dalam masyarakat
anatara yang kaya dengan yang miskin, penajabat dengan rakyat biasa, masyarakat
cenderung mempertentangkannya. Adanya polarisasi hak-hak istimewa pada oaring
atau kelompok tertentu akan memeunculkan penghargaan kelompok masyarakat yang
lebih pada individu atau kelompok yang memiliki berbagai hak istimewa tersebut.
Sehingga kelompok tersebut berada pada posisi lapisan yang lebih tinggi dari
pada masyarakat lain dengan prestise yang lebih. Dan mereka cenderung bergul
dengan sesamanya yang memiliki keduduka tinggi diantara masyarakat lain.
D. Pengaruh Stratifikasi Sosial
Dalam kehidupan bermasyarakat,
stratifikasi sosial sangatlah berpengaruh.Stratifikasi sosial (Pelapisan
sosial) sudah mulai dikenal sejak manusia menjalin kehidupan bersama.
Terbentuknya pelapisan sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia
berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun,
baik secara perorangan maupun kelompok. Pada masyarakat yang taraf
kebudayaannya masih sederhana, maka pelapisan yang terbentuk masih sedikit dan
terbatas, sedangkan masyarakat modern memiliki pelapisan sosial yang kompleks
dan tajam perbedaannya.
Stratifikasi sosial akan selalu
ditemukan dalam masyarakat selama di dalam masyarakat tersebut terdapat sesuatu
yang dihargai. Mungkin berupa uang atau benda-benda bernilai ekonomis, atau
tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan agama, atau keturunan keluarga
terhormat. Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akan dianggap
sebagai orang yang menduduki pelapisan atas. Sebaliknya mereka yang hanya
sedikit memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dihargai
tersebut, mereka akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang-orang yang
menempati pelapisan bawah atau berkedudukan rendah.
Stratifikasi sosial akan membedakan
warga masyarakat menurut kekuasaan dan pemilikan materi. Kriteria ekonomi
selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan,kepemilikan kekayaan, atau
kedua-duanya. Dengan begitu, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan
membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa stratifikasi atau kelasekonomi.
Dalam stratifikasi sosial terdapat
tiga kelas sosial, yaitu: Masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper
class), Masyarakat yang terdiri kelas menengah (middle class) dan kelas bawah
(lower class). Orang-orang yang berada pada kelas bawah (lower) biasanya
lebih banyakdari pada di kelas menengah apalagi pada kelas atas.Semakin
keatas semakin sedikit jumlah orang yang berada pada posisi kelas atas.
Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam kehidupan masyarakat terdapat kriteria yang dipakai
untuk menggolongkan orang dalam pelapisan sosial dilihat dari
ukuran kekayaan, kekuasaan,
kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan yang dimiliki.dilihat dari
ukuran itu, dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial
dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, seperti adanya perbedaan gaya hidup
dan perlakuan dari masyarakat terhadap orang-orang yang menduduki pelapisan
tertentu. Stratifikasi sosial juga menyebabkan adanya perbedaan sikap dari
orang-orang yang berada dalam strata sosial tertentu berdasarkan kekuasaan, privilese dan prestise. Dalam lingkungan masyarakat dapat terlihat perbedaan
antara individu, atau satu keluarga lain, yang dapatdidasarkan pada ukuran
kekayaan yang dimiliki. Yang kaya ditempatkan pada lapisanatasdan miskin pada
lapisan bawah. Atau mereka yang berpendidikan tinggi berada dilapisan atas
sedangkan yang tidak sekolah pada lapisan bawah. Dari perbedaan lapisan sosial
ini terlihat adanya kesenjangan sosial. Hal ini tentu merupakan masalah sosial
dalam masyarakat.
Perbedaan sikap tersebut tercermin dari gaya hidup seseorang
sesuai dengan strata sosialnya. Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari
cara berpakaian, tempat tinggal,cara berbicara,pemilihan tempat pendidikan,hobi
dan tempat rekreasi. Jika dilihat dari cara berpakaian, seseorang yang tergolong dalam
strata sosial atas dapat dilihat dari gaya busananya. Biasanya orang-orang
kelas atas menggunakan busana dan aksesoris lain, seperti sepatu,tas, jam
tangan yang bermerek dan dari luar negeri. Sedangkan mereka yang
termasuk strata sosial menengah ke bawah, lebih memilih menggunakan
barang-barang produksi dalam negeri. Begitupun dengan tempat tinggal dan
gaya berbicara. Pada
umumya masyarakat kelas atas akan membangun rumah yang besar dan mewah dengan
gaya arsitektur yang indah. Masyarakat kelas atas lebih menyukai tinggal
dikawasan elite dan apartemen mewah yang dilengkapi dengan fasilitas modern.
Sedangkan masyarakat yang tergolong strata menengah lebih memilih bentuk dan
tipe rumah yang sederhana bahkan ada juga yang tinggal di rumah susun.Cara
berbicara pun akan berbeda. Orang-orang yang tergolong strata atas akan berbeda dengan
orang-orang yang berada dalam strata bawah. Mereka yang termasuk dalam golongan
strata atas memiliki gaya berbicara yang beradaptasi dengan istilah-istilah
asing serta penuh dengan kesopanan. Sedangkan orang-orang yang berada dalam
strata bawah terkadangsuka berbicara yang tidak terlalu memperhatikan
etika.
Dikarenakan Indonesia tidak bisa lepas dari kecenderungan
stratifikasi sosial yang memunculkan berbagai macam dampak terhadap kehidupan
masyarakat dimana memiliki nilai positif maupun nilai negatif dalam
perkembangan pandanan hidup.Kembali dalam penegasan pengertian stratifikasi
sosial yaitu pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas
secara vertikal (bertingkat), yang di wujudkan dengan adanya tingkatan
masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.
Pengaruh/nilai baik yang akan dibawa dari adanya sistem stratifikasi
sosial ini adalah motivasi, yaitu adanya dorongan baik dari dalam maupun dari
luar diri seseorang untuk mengejar ketinggalan, untuk melakukan mobilitas
sosial sehingga dia bisa menduduk status sosial yang pantas. Selain itu
pengaruh baik dari stratifikasi sosial adalah perubahan sosial menuju arah yang
lebih baik dapat berlangsung lebih cepat dikarenakan telah adanya motivasi
untuk memperbaiki hidup. dimana akan semakin tercipta sumber daya manusia yang
berkualitas kemudian dengan adanya strafikasi sosial maka setiap orang telah
memiliki peranan sendiri sehingga sudah sadar akan hak dan kewajiban
masing-masing sehingga tidak terjadi pencampuran peranan sosial dan terciptanya
ketertiban sosial.
Sedangkan
pengaruh buruk dari stratifikasi sosial ini adalah munculnya eksklusivitas
dimana eksklusivitas adalah cara pandang yang menganggap diri sendiri sebagai
sosok yang terbaik dan spesial sehingga cenderung menganggap remeh orang lain,
sikap ini dapat kita lihat dimana muculnya golongan elit. Pengaruh buruk
lainnya dari stratifikasi sosial ini adalah munculnya sikap etnosentrisme yang
dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri dapat terjadi dalam stratifikasi
sosial yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi sosial atas akan
menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan
kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi sosial rendah. Sehingga, hal
ini dapat menimbulkan konflik
yang bisa dibagi menjadi konflik antar kelas sosial, konflik antar kelompok sosial,
serta konflik antar generasi.
E. Cara-cara Menentukan Stratifikasi Sosial
Adanya golongan social timbul karena adanya perbedaan status di kalangan anggota masyarakat. Untuk menentukan stratifikasi social ada 3 metode, yakni:[2]
1. Metode obyektif
Artinya usaha untuk memilah-milah masyarakat ke dalam beberapa lapisan dilakukan menurut ukuran-ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif. Stratifikasi ditentukan berdasarkan criteria obyektif antara lain jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan, jenis pekerjaan.
2. Metode Subyektif
Artinya munculnya pelapisan social dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria-krieteria yang objektif,
melainkan dipilih menurut kesadaran subjektif warga masyarakat itu sendiri.
3. Metode Reputasi
Golongan social dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat menempatkan masing-masing dalam stratifikasi masyarakat itu. memberi kesempatan kepada orang dalam masyarakat itu sendiri untuk menetukan golongan-golongan mana yang terdapat dalam masyarakat itu lalu mengidentifikasikan anggota masing-masing golongan itu.
F.
Hubungan Pendidikan dengan Stratifikasi Sosial
Pada hakikatnya tidak ada masyarakat tanpa kelas. Definisi
sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A.Sorokin bahwa pelapisan
sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara
bertingkat (hierarkis). Perwujudan dari stratifikasi sosial adalah adanya
lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada
lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial.
P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut
stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran
akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.
Salah satu dasar pembentuk pelapisan
sosial atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan
pelapisan sosial yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini erat hubungannya
dengan pendidikan. Ukuran ilmu
pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu
pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati
lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.
Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik
(kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter,
insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor.
Dalam berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan
tertinggi yang didapatkan seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan
sosialnya di dalam masyarakat. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang
tinggi antara kedudukan sosial yang seseorang dengan tingkat pendidikan yang
telah ditempuhnya,meski demikian pendidikan yang tinggi tidak dengan sendirinya
menjamin kedudukan sosial yang tinggi. Korelasi antara pendidikan dan golongan
sosial antara lain terjadi karena anak dari golongan rendah kebanyakan tidak
melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi. Sementara orang yang termasuk
golongan atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan sampai
perguruan tinggi. Orang yang berkedudukan tinggi, bergelar akademis, yang
mempunyai penapatan besar tinggal dirumah elite dan merasa termasuk golongan
atas akan mengusahakan anknya masuk universitas dan memperoleh gelar akademis.
Sebaliknya anak yang orangtuanya buta huruf mencari nafkahnya dengan
mengumpulkan puntung rokok,tinggal digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan
mengusahakan anaknya menikmati perguruan tinggi.
Ada 3 faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak, Yaitu:
Ada 3 faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak, Yaitu:
1. Pendapatan orangtua.
2. Kurangnya perhatian akan pendidikan
dikalangan orangtua.
3. Kurangnya minat si anak untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi.
Golongan sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya
jenjang pendidikan anak tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang
dipilih. Tidak semua orangtua mampu membiayai studi anaknya diperguruan tinggi.
Pada umumnya anak-anak yang orangtuanya mampu, akan memilih sekolah menengah
umum sebagai persiapan untuk belajar di perguruan tinggi. Sementara
orangtua yang mengetahui batas kemampuan keuangannya akan cenderung memilih
sekolah kejuruan bagi anaknya, dengan pertimbangan setelah lulus dari kejuruan
bisa langsung bekerja sesuai dengan keahliannya. Dapat diduga sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai
murid dari golongan rendah daripada yang berasal dari golongan atas. Karena itu
sekolah menengah dipandang lebih tinggi statusnya daripada sekolah kejuruan.
Demikian pula dengan mata pelajaran atau bidang studi yang berkaitan dengan
perguruan tinggi dipandang mempunyai status yang lebih tinggi , misal
matematika, fisika dipandang lebih tinggi daripada tata buku. Sikap demikian
bukan hanya terdapat dikalangan siswa tetapi juga dikalangan orangtua dan guru
yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyampaikan sikap itu kepada
anak-anaknya.
Kesimpulannya bahwa pendidikan
dengan stratifikasi sosial sangat erat hubungannya. Pada stratifikasi sosial
terbuka pendidikan dapat menjadi alat untuk mobilisasi sosial. Pendidikan sebagai
salah satu dasar penentu kelas sosial dapat merubah kelas seseorang.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini dapat
disimpulkan bahwa,
pertama kita dapat melihat bahwa pendidikan merupakan hal
penting dalam masyarakat. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan dapat menjadi
alat untuk meningkatkan status sosial masyarakat. Namun pendidikan sendiri
dapat menyebabkan stratifikasi sosial dan membuat kesenjangan didalam dunia
pendidikan semakin jelas terlihat. Seperti kasus timbulnya label sekolah
favorit dan tidak favorit. disini jelas terlihat bahwa sekolah yang berlabel
sekolah favorit cenderung dimasuki oleh orang-orang yang berstatus sosial
tinggi dan ini menunjukan bahwa peddikan yang bermutu hanya dapat dijangkau
oleh orang-orang berkelas tinggi. Sedangkan sebaliknya, orang yang berada
didalam kelas bawah mereka harus menikmati pendidikan seadanya.
Disatu sisi kita dapat melihat bahwa pendidikan merupakan
sesuatu yang penting untuk masyarakat, namun kondisi dari pendidikan itu
sendirilah justru yang memperlihatkan bagaimana stratifikasi sosial yang ada
dimasyarakat dimana dalam hal ini hanya orang-orang yang berstatus sosial
tinggilah yang dapat menikmati pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar