Kamis, 14 Mei 2015

makalah sosiologi pendidikan



                                                                      BAB I
PENDAHULUAN 
A.     Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan Indonesia, semakin hari semakin berkembang. Namun, seperti kita ketahui, perkembangan ini tidak sepadan dengan kualitas pendidikan itu sendiri. Hal ini mengakibatkan kesenjangan atau ketimpangan di dalam masyarakat Indonesia seperti kualitas lulusan, kesenjangan antara pendidikan kota dan desa, dan sebagainya. Selain itu, didalam pendidikan muncul masalah yang tidak dapat terpisahkan dari pendidikan itu sendiri yang tidak lain adalah bahwa pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial.
Seperti yang kita ketahui, stratifikasi sosial merupakan pengelompokan terhadap suatu masyarakat kedalam kelas-kelas tertentu. Dimana pengelompokan ini dapat memperlihatkan perbedaan status yang ada didalam masyarakat. Scot (Saripudin, 2010: 41) menjelaskan bahwa setiap sistem stratifikasi sosial akan melahirkan mitos dan rasionalnya sendiri untuk menerangkan apa sebabnya masyarakat tertentu harus dianggap lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain. Benarkah pendidikan cenderung menjadi sarana timbulnya srtatifikasi sosial?
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penyusun mencoba mendalami dan mengkaji permasalahan tersebut dalam makalah yang berjudul “Pendidikan dan Stratifikasi Sosial”.
B.   Rumusan Masalah
1.  Apa yang dimaksud dengan Pendidikan dan Stratifikasi Sosial?
2.  Bagaimana macam-macam dan tipe stratifikasi sosial?
3.  Bagaimana faktor-faktor penyebab munculnya stratifiasi sosial?
4.  Bagaimana pengaruh Stratifikasi Sosial?
5.  Bagaimana cara Menentukan Stratifikasi Sosial?
6.  Bagaimana hubungan antara pendidikan dengan Stratifikasi sosial?
C.   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah yaitu :
1.  Untuk mengetahui definisi atau pengertian Stratifikasi Sosial dan Pendidikan.
2.  Untuk mengetahui macam-macam dan tipe stratifikasi sosial.
3.  Untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor penyebab munculnya stratifiasi sosial
4.  Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari stratifikasi sosial.
5.  Untuk mengetahui bagaimana cara menentukan Stratifikasi Sosial
6.  Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan dengan stratifikasi sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pendidikan Dan Stratifikasi Sosial
1.       Pengertian Pendidikan
Menurut Langeveld, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Sedangkan menurut UUNo. 2Tahun 1989, pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Dari pegertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif untuk mengembangkan potensi dirinya agar memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan pula bahwa pendidikan mempunyai fungsi atau kegunaan. Menurut Horton dan Hunt (Saripudin, 2010: 36) pendidikan mempunyai dua fungsi yakni fungsi manifest dan fungsi laten. Sebagai fungsi manifest, pendidikan dapat membantu seseorang untuk dapat mencari nafkah. Melalui pendidikan seseorang akan mempunyai keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan dari keterampilan itulah, ia akan mampu untuk mencari nafkah. Selain iu pendidikan juga berfungsi sebagai alat untuk melestarikan kebudayaan. Sebagai fungsi laten, pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk memperpanjang masa ketidakdewasaan, mengurangi pengendalian orang tua, dan sebagainya.
Pendidikan adalah suatu lembaga yang bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap peserta didiknya, sehingga bisa dikatakan bahwa melalui pendidikanlah seseorang bisa memperlihatkan dan mengembangkan kemampuannya yang kemudian akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
2.      Pengertian Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk/masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hierarkis).[1] Pitirim A. Sorokin dalam tulisan yang berjudul Sosial Stratification mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur. Sedangkan menurut Drs. Robert M.Z. Lawang stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
Dari pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial merupakan sebuah pengelompokan masyarakat unuk membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya. Didalam masyarakat dasar-dasar pembentukan stratifikasi sosial dilihat dari empat hal.
Pertama dilihat dari ukuran kekayaan. Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
Kedua dilihat dari ukuran kekuasaan dan wewenang. Dalam hal ini jika seseorang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar maka, ia akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
Ketiga dilihat dari ukuran kehormatan. Disini ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
Dan keempat, dilihat dari ukuran ilmu pengetahuan. Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
B.       Macam-Macam atau Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial
Didalam bukunya, Saripudin (2010: 43-47) menyebutkan bahwa macam-macam stratifikasi sosial terdiri dari beberapa kelompok, antara lain:
1.      Stratifikasi pada masyarakat pertanian, dalam masyarakat ini sistem stratifikasi dilihat dari kepemilikan tanah.
2.      Stratifikasi sosial pada masyarakat feodal, seperti yang kita ketahui feodalisme merupakan sisten sosial politik yang memberikan kekuasaan yang besar pada golongan bangsawan. Hampir sama dengan stratifikasi pada masyarakat pertanian, pada masyarakat feodal stratifikasi sosial dilihat dari kepemilikan tanah yang terdiri dari dua kelas utama yakni para bangsawan (tuan tanah) dan buruh.
3.      Stratifikasi sosial pada masyarakat industri, pada masyarakat ini sistem pelapisan sosial lebih bersifat terbuka dimana seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan mobilitas.
Selain itu, didalam bukunya Saripudin (2010: 48-50) juga mnjelaskan bahwa stratifikasi sosial mempunyi beberapa tipe antara lain:
1.       Stratifikasi SosialTertutup
Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah. Contoh stratifikasi social tertutup yaitu sepert sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa.Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat atau bangsawan darah biru.
2.         Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi social terbuk aadalah system stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata atau tingkatan yang lain. Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran/penghasilan yang tinggi.
3.        Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial campuran adalah gabungan dari stratifikasi system terbuka dan stratifikasi system tertutup di mana masyarakat tersebut dapat untuk pindah ke lapisan lebih atas, namun di sisi lain dapat melakukan mobilitas vertical dengan status sama. Contohnya dapat kita temukan pada masyarakat Bali. Misalnya seseorang yang berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apa bila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, maka ia akan memperoleh kedudukan rendah, maka ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.
C.      Faktor –Faktor Penyebab Munculnya Stratifikasi Sosial
            Kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya lapisan dalam masayarakat atau yang sering disebut dengan stratifikasi sosial. Keadaan masyarakat yang majemuk memungkinkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam mayarakat karena faktor-faktor tertentu. Sistem lapisan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atau sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama. Menurut Soekanto (1982: 199-200) alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu. Pelapisan sosial ini terjadi karena adanya perkembangan dan perubahan dalam masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat Batak dimana marga tanah, yaitu marga pertama-tama membuka tanah dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi. Demikian pula dengan golongan pembuka tanah kalangan orang Jawa di Desa dianggap sebagai pembuka tanah dan pendidri desa yang bersangkutan. Sedangkan tipe sistem lapisan sosial yang sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama atau tertentu menurut Saripudin (2010: 48) terjadi pada organisasi-organisasi formal seperti partai politik, pemerintahan, perusahaan, dan angkatan bersenjata. Hal-hal tersebut berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang resmi yang merupakan unsur khusus dalam sistem lapisan.
            Soekanto (1989:200-201) mengatakan untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat dapat berpedoman pada hal-hal berikut, yaitu:  
“Pertama, sistem lapisan mungkin berpokok pada sistem bertentangan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi objek penelitian. Kedua, sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsure-unsur antara lain: distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti penghasilan, kekayaan, keselamatan, dan wewenang; sistem pertentangan yang diciptakan para warga masyarakat; kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekeuasaan; lambing-lambang kedudukan seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, dan keanggotaan pada suatu organisasi; mudah atau sukar bertukar kedudukan; solidaritas diantara individu-individu atau kelompok-kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.” Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat. Walaupun secara teoritis seluruh manusia dapat dianggap sederajat. Namun tidak demikian, sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial manusia dalam masyarakat terbentuk lapisan-lapisan dengan manusia lainnya sebagai suatu makhluk sosial.
            Ada beberapa kondisi sosial yang menyebabkan munculnya stratifikasi sosial menurut Saripudin (2010: 48) antara lain perbedaan ras dan budaya, pembagian tugas atau spesialisasi dalam tugas, dan adanya kelangkaan. Perbedaan warna kulit, lata belakang etnik dan suku akan menyebabkan terjadinya pelapisan sosial, jika hala itu diiringi denga proses penjajahan. Adanya kelangkaan sebagai kondisi yang menyebabkan munculnya startifikasi sosial dapat diartikan sebagai suatau kondisi yang mengandung perbedaan hak dan kesempatan para anggota yang akhirnya menimbulkan stratifikasi sosial.
            Pelapisan sosial atau stratifikai sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secarahierarkis). Munculnya lapisan sosial dalam masyarakat merupakan gejala umum dalam kehidupan masyarakat. Beberapa hal yang menyebabkan munculnya stratifikasi sosial menurut Saripudin (2010: 47) antara lain:
“Pertama, munculnya lapisan sosial dalam masyarakt didasarkan pada adanya pertentangan dan pembedaan. Kedua, tidak adanya keseimbangan dalam pembagian atau distribusi hak dan kewajiban, hak-hak istimewa (penghasilan, kekayaan, ilmu) dimiliki oleh hanya segelintir orang atau kelompok tertentu. Ketiga, kelompok-kelompok yang memiliki hak-hak istimewa tersebut biasanya menggunakan lambang-lambang yang menjadi symbol kedudukan, lambing tersebut baik berupa pakaian, tingkah laku, rumah, dan keanggotaan pada suatu organisasi (2010, 47)”.
Selain membedakan seperti adanya pembedaan dalam masyarakat anatara yang kaya dengan yang miskin, penajabat dengan rakyat biasa, masyarakat cenderung mempertentangkannya. Adanya polarisasi hak-hak istimewa pada oaring atau kelompok tertentu akan memeunculkan penghargaan kelompok masyarakat yang lebih pada individu atau kelompok yang memiliki berbagai hak istimewa tersebut. Sehingga kelompok tersebut berada pada posisi lapisan yang lebih tinggi dari pada masyarakat lain dengan prestise yang lebih. Dan mereka cenderung bergul dengan sesamanya yang memiliki keduduka tinggi diantara masyarakat lain.


D.      Pengaruh Stratifikasi Sosial
Dalam kehidupan bermasyarakat, stratifikasi sosial sangatlah berpengaruh.Stratifikasi sosial (Pelapisan sosial) sudah mulai dikenal sejak manusia menjalin kehidupan bersama. Terbentuknya pelapisan sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun, baik secara perorangan maupun kelompok. Pada masyarakat yang taraf kebudayaannya masih sederhana, maka pelapisan yang terbentuk masih sedikit dan terbatas, sedangkan masyarakat modern memiliki pelapisan sosial yang kompleks dan tajam perbedaannya.
Stratifikasi sosial akan selalu ditemukan dalam masyarakat selama di dalam masyarakat tersebut terdapat sesuatu yang dihargai. Mungkin berupa uang atau benda-benda bernilai ekonomis, atau tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan agama, atau keturunan keluarga terhormat. Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akan dianggap sebagai orang yang menduduki pelapisan atas. Sebaliknya mereka yang hanya sedikit memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dihargai tersebut, mereka akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang-orang yang menempati pelapisan bawah atau berkedudukan rendah.
Stratifikasi sosial akan membedakan warga masyarakat menurut kekuasaan dan pemilikan materi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan,kepemilikan kekayaan, atau kedua-duanya. Dengan begitu, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa stratifikasi atau kelasekonomi.
Dalam stratifikasi sosial terdapat tiga kelas sosial, yaitu: Masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper class), Masyarakat yang terdiri kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class). Orang-orang yang berada pada kelas bawah (lower) biasanya lebih banyakdari pada di kelas menengah apalagi pada kelas atas.Semakin keatas semakin sedikit jumlah orang yang berada pada posisi kelas atas.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam kehidupan masyarakat terdapat kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang dalam pelapisan sosial dilihat dari ukuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan yang dimiliki.dilihat dari ukuran itu, dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, seperti adanya perbedaan gaya hidup dan perlakuan dari masyarakat terhadap orang-orang yang menduduki pelapisan tertentu. Stratifikasi sosial juga menyebabkan adanya perbedaan sikap dari orang-orang yang berada dalam strata sosial tertentu berdasarkan kekuasaan, privilese dan prestise. Dalam lingkungan masyarakat dapat terlihat perbedaan antara individu, atau satu keluarga lain, yang dapatdidasarkan pada ukuran kekayaan yang dimiliki. Yang kaya ditempatkan pada lapisanatasdan miskin pada lapisan bawah. Atau mereka yang berpendidikan tinggi berada dilapisan atas sedangkan yang tidak sekolah pada lapisan bawah. Dari perbedaan lapisan sosial ini terlihat adanya kesenjangan sosial. Hal ini tentu merupakan masalah sosial dalam masyarakat.
Perbedaan sikap tersebut tercermin dari gaya hidup seseorang sesuai dengan strata sosialnya. Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara berpakaian, tempat tinggal,cara berbicara,pemilihan tempat pendidikan,hobi dan tempat rekreasi. Jika dilihat dari cara berpakaian, seseorang yang tergolong dalam strata sosial atas dapat dilihat dari gaya busananya. Biasanya orang-orang kelas atas menggunakan busana dan aksesoris lain, seperti sepatu,tas, jam tangan yang bermerek dan dari luar negeri. Sedangkan mereka yang termasuk strata sosial menengah ke bawah, lebih memilih menggunakan barang-barang produksi dalam negeri. Begitupun dengan tempat tinggal dan gaya berbicara. Pada umumya masyarakat kelas atas akan membangun rumah yang besar dan mewah dengan gaya arsitektur yang indah. Masyarakat kelas atas lebih menyukai tinggal dikawasan elite dan apartemen mewah yang dilengkapi dengan fasilitas modern. Sedangkan masyarakat yang tergolong strata menengah lebih memilih bentuk dan tipe rumah yang sederhana bahkan ada juga yang tinggal di rumah susun.Cara berbicara pun akan berbeda. Orang-orang yang tergolong strata atas akan berbeda dengan orang-orang yang berada dalam strata bawah. Mereka yang termasuk dalam golongan strata atas memiliki gaya berbicara yang beradaptasi dengan istilah-istilah asing serta penuh dengan kesopanan. Sedangkan orang-orang yang berada dalam strata bawah terkadangsuka berbicara yang tidak terlalu memperhatikan etika.
Dikarenakan Indonesia tidak bisa lepas dari kecenderungan stratifikasi sosial yang memunculkan berbagai macam dampak terhadap kehidupan masyarakat dimana memiliki nilai positif maupun nilai negatif dalam perkembangan pandanan hidup.Kembali dalam penegasan pengertian stratifikasi sosial yaitu pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal (bertingkat), yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.
Pengaruh/nilai baik yang akan dibawa dari adanya sistem stratifikasi sosial ini adalah motivasi, yaitu adanya dorongan baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang untuk mengejar ketinggalan, untuk melakukan mobilitas sosial sehingga dia bisa menduduk status sosial yang pantas. Selain itu pengaruh baik dari stratifikasi sosial adalah perubahan sosial menuju arah yang lebih baik dapat berlangsung lebih cepat dikarenakan telah adanya motivasi untuk memperbaiki hidup. dimana akan semakin tercipta sumber daya manusia yang berkualitas kemudian dengan adanya strafikasi sosial maka setiap orang telah memiliki peranan sendiri sehingga sudah sadar akan hak dan kewajiban masing-masing sehingga tidak terjadi pencampuran peranan sosial dan terciptanya ketertiban sosial.
Sedangkan pengaruh buruk dari stratifikasi sosial ini adalah munculnya eksklusivitas dimana eksklusivitas adalah cara pandang yang menganggap diri sendiri sebagai sosok yang terbaik dan spesial sehingga cenderung menganggap remeh orang lain, sikap ini dapat kita lihat dimana muculnya golongan elit. Pengaruh buruk lainnya dari stratifikasi sosial ini adalah munculnya sikap etnosentrisme yang dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri dapat terjadi dalam stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi sosial atas akan menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi sosial rendah. Sehingga, hal ini dapat menimbulkan konflik yang bisa dibagi menjadi konflik antar kelas sosial, konflik antar kelompok sosial, serta konflik antar generasi.
E.       Cara-cara Menentukan Stratifikasi Sosial
            Adanya golongan social timbul karena adanya perbedaan status di kalangan anggota masyarakat. Untuk menentukan stratifikasi social ada 3 metode, yakni:[2]
1.         Metode obyektif
Artinya usaha untuk memilah-milah masyarakat ke dalam beberapa lapisan dilakukan menurut ukuran-ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif. Stratifikasi ditentukan berdasarkan criteria obyektif antara lain jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan, jenis pekerjaan.
2.         Metode Subyektif
Artinya munculnya pelapisan social dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria-krieteria yang objektif, melainkan dipilih menurut kesadaran subjektif warga masyarakat itu sendiri.
3.         Metode Reputasi
Golongan social dirumuskan menurut bagaimana  anggota masyarakat menempatkan masing-masing dalam stratifikasi masyarakat itu. memberi kesempatan kepada orang dalam masyarakat itu sendiri untuk menetukan golongan-golongan mana yang terdapat dalam masyarakat itu lalu mengidentifikasikan anggota masing-masing golongan itu.


F.       Hubungan Pendidikan dengan Stratifikasi Sosial
Pada hakikatnya tidak ada masyarakat tanpa kelas. Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A.Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudan dari stratifikasi sosial adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.
            Salah satu dasar pembentuk pelapisan sosial atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini erat hubungannya dengan pendidikan.  Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor.
Dalam berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan tertinggi yang didapatkan seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya di dalam masyarakat. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial yang seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya,meski demikian pendidikan yang tinggi tidak dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi. Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi karena anak dari golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi. Sementara orang yang termasuk golongan atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Orang yang berkedudukan tinggi, bergelar akademis, yang mempunyai penapatan besar tinggal dirumah elite dan merasa termasuk golongan atas akan mengusahakan anknya masuk universitas dan memperoleh gelar akademis. Sebaliknya anak yang orangtuanya buta huruf mencari nafkahnya dengan mengumpulkan puntung rokok,tinggal digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan mengusahakan anaknya menikmati perguruan tinggi.
Ada 3 faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak, Yaitu:
1. Pendapatan orangtua. 
2. Kurangnya perhatian akan pendidikan dikalangan orangtua.
3. Kurangnya minat si anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Golongan sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya jenjang pendidikan anak tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang dipilih. Tidak semua orangtua mampu membiayai studi anaknya diperguruan tinggi. Pada umumnya anak-anak yang orangtuanya mampu, akan memilih sekolah menengah umum sebagai persiapan untuk belajar di perguruan tinggi. Sementara orangtua yang mengetahui batas kemampuan keuangannya akan cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya, dengan pertimbangan setelah lulus dari kejuruan bisa langsung bekerja sesuai dengan keahliannya. Dapat diduga sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai murid dari golongan rendah daripada yang berasal dari golongan atas. Karena itu sekolah menengah dipandang lebih tinggi statusnya daripada sekolah kejuruan. Demikian pula dengan mata pelajaran atau bidang studi yang berkaitan dengan perguruan tinggi dipandang mempunyai status yang lebih tinggi , misal matematika, fisika dipandang lebih tinggi daripada tata buku. Sikap demikian bukan hanya terdapat dikalangan siswa tetapi juga dikalangan orangtua dan guru yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyampaikan sikap itu kepada anak-anaknya.
Kesimpulannya bahwa pendidikan dengan stratifikasi sosial sangat erat hubungannya. Pada stratifikasi sosial terbuka pendidikan dapat menjadi alat untuk mobilisasi sosial. Pendidikan sebagai salah satu dasar penentu kelas sosial dapat merubah kelas seseorang.
















BAB III
PENUTUP

A.        KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa, pertama kita dapat melihat bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam masyarakat. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan dapat menjadi alat untuk meningkatkan status sosial masyarakat. Namun pendidikan sendiri dapat menyebabkan stratifikasi sosial dan membuat kesenjangan didalam dunia pendidikan semakin jelas terlihat. Seperti kasus timbulnya label sekolah favorit dan tidak favorit. disini jelas terlihat bahwa sekolah yang berlabel sekolah favorit cenderung dimasuki oleh orang-orang yang berstatus sosial tinggi dan ini menunjukan bahwa peddikan yang bermutu hanya dapat dijangkau oleh orang-orang berkelas tinggi. Sedangkan sebaliknya, orang yang berada didalam kelas bawah mereka harus menikmati pendidikan seadanya.
Disatu sisi kita dapat melihat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk masyarakat, namun kondisi dari pendidikan itu sendirilah justru yang memperlihatkan bagaimana stratifikasi sosial yang ada dimasyarakat dimana dalam hal ini hanya orang-orang yang berstatus sosial tinggilah yang dapat menikmati pendidikan.



















[1] Ary H. Gunawan, sosiologi pendidikan suatu analisis sosiologi tentang berbagai problem pendidikan (jakarta: rineka cipta. 2000) hal. 38
[2] S Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. 2004) hal. 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar